KULTUR SEKOLAH
Nama : Wulan Oktavidia
Nim :
12001289
Kelas :
4H
Disini saya akan
akan menuliskan tentang Kultur Jaringan , sebagaimana untuk memenuhi mata
kuliah MAGANG 1 .
Kultur sekolah menjadi salah satu daya tarik konsumen untuk
menggunakan jasa pendidikan yang ditawarkan sekolah. Semakin positif kultur
sebuah sebuah, maka konsumen pendidikan akan semakin tertarik kepada sekolah
tersebut. Dan yang terpenting, kultur sekolah merupakan landasan dari
tercapainya semua bentuk prestasi warga sekolah. Kultur sekolah adalah
serangkaian keyakinan, harapan, nilai-nilai, norma, tata aturan, dan rutinitas
kerja yang diinternalisasi warga sekolah sehingga mempengaruhi hubungan sejawat
dan kinerja warga sekolah dalam upaya mencapai tujuan sekolah. Kultur inilah
yang menjadi pembeda antara sekolah satu dengan lainnya.
Bagaimana kultur
sekolah yang positif terbentuk? Kultur sekolah harus dibangun di atas landasan
ilmu dan pemahaman yang memadai. Mengapa sekolah ini harus menerapkan
kedisiplinan dalam berbagai hal, misalnya, harus dipahami oleh semua warga
sekolah. Oleh karena itu tahapan sosialisasi menjadi langkah awal penanaman
kultur, khususnya kepada warga baru, guru atau siswa baru. Melalui tahapan
sosialisasi, warga sekolah mengawali proses internalisasi nilai-nilai dan norma
yang dianut sekolah .
Tahapan
berikutnya adalah pemantapan melalui serangkaian kegiatan pembiasaan dengan
keteladanan piramid. Kepala sekolah menjadi tokoh utama keteladanan diikuti
guru dan karyawan sedangkan peserta didik menjadi followers yang
menyerap nilai-nilai positif dari perilaku para pemimpinnya.
Endingnya, kultur sekolah yang kuat membentuk wajah unik
sekolah. Ketika masyarakat menyebut Sekolah A, maka sudah terbayang gambaran
isi positif dari sekolah A tersebut. Sebaliknya, sekolah yang kulturnya lemah,
maka wajah "semrawut"lah yang terbayang di benak masyarakat.
·
Karakteristik
Kultur Sekolah
Kultur Sekolah merupakan budaya
sekolah yang dapat memberikan pengaruh terhadap kehidupan masyarakat sekolah
baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif sebagaimana karakteristik kultur
tersebut. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Moerdiyanto yang menyatakan bahwa “Kultur sekolah terdiri
dari kultur positif dan kultur negatif. Kultur positif adalah budaya yang
membantu mutu sekolah dan mutu kehidupan bagi warganya”[5].
Dalam pengertian mutu sekolah dan mutu kehidupan dapat dimaksudkan sebagai mutu
yang berhubungan dengan kehidupan yang bernilai moralitas dan agamis masyarakat
sekolah. Aktifitas siswa dalam kesehariannya tidak akan lepas dari keterlibatan
kultur sekolah pada proses bersikap, berbuat dan memandang bahkan berfikirnya.
Mutu kehidupan siswa yang diharapkan adalah siswa yang memiliki prilaku baik
dalam sudut pandang etika dan agama. Kultur positif ini akan memberi peluang
sekolah beserta warganya untuk membentuk dan maningkatkan kemampuan dan
kecerdasan spiritual siswa.
Kultur positif dan kuat memiliki kekuatan dan
menjadi modal dalam melakukan pendidikan yang memperhatikan dimensi kecerdasan
spiritual siswa dan perbaikan kondisi-kondisi agar dapat lebih kondusif
terhadap tumbuh dan berkembangnya kecerdasan tersebut. Sedangkan kultur negatif
adalah budaya yang bersifat anarkis, negatif, beracun, bias, dan dominatif.
Sekolah yang hanya melihat dan menargetkan hasil pendidikan yang berupa
kemampuan intelegensi dan mengabaikan dimensi spiritaual siswa merupakan bagian
dari kultur negatif, karena mereka cenderung tidak melakukan upaya yang
mengarah kepada terbentuk dan berkembangnya kecerdasan spiritual siswa. Kultur
sekolah bersifat dinamis. Perubahan pola perilaku dapat mengubah sistem nilai
dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini
sangat sulit. Namun yang jelas dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan
konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan
positif. Dan kultur sekolah itu milik kolektif dan merupakan perjalanan sejarah
sekolah, produk dari berbagai kekuatan yang masuk ke sekolah. Sekolah perlu
menyadari secara serius mengenai keberadaan aneka kultur subordinasi yang ada
seperti kultur sehat dan tidak sehat, kultur kuat dan lemah, kultur positif dan
negatif, kultur kacau dan stabil, dan konsekuensinya terhadap perbaikan
sekolah.
·
Identifikasi
Kultur Sekolah
Kotter memberikan gambaran
tentang kultur dengan melihat dua lapisan. Lapisan pertama sebagian dapat
diamati dan sebagian lainnya tidak diamati[6].
Dari pengelompokan ini maka dapat dipisahkan antara kultur yang dapat dilihat
dengan yang tidak dapat dilihat, dan lapisan yang bisa diamati antara lain
desain arsitektur gedung, tata ruang, desain eksterior dan interior sekolah,
kebiasaan, peraturan-peraturan, cerita-cerita, kegiatan upacara, ritual,
simbol-simbol, logo, slogan, bendera, gambar-gambar yang dipasang, tanda-tanda
yang dipasang, sopan santun, cara berpakaian warga sekolah. Sedangkan hal-hal
di balik itu tidak dapat diamati, tidak kelihatan dan tidak dapat dimaknai
dengan segera. Lapisan pertama ini berintikan norma perilaku bersama warga
organisasi yang berupa norma-norma kelompok, cara-cara tradisional berperilaku
yang telah lama dimiliki suatu kelompok masyarakat (termasuk sekolah).
Norma-norma perilaku ini sulit diubah, yang biasa disebut sebagai artifak.
Lapisan kedua merupakan nilai-nilai bersama yang dianut kelompok berhubungan
dengan apa yang penting, yang baik, dan yang benar. Lapisan kedua ini semuanya
tak dapat diamati karena terletak dalam kehidupan bersama. Kultur pada lapisan
kedua ini sangat sulit atau bahkan sangat kecil kemungkinannya untuk diubah
serta memerlukan waktu yang lama.
Kultur sekolah beroperasi secara
tidak disadari oleh para pendukungnya dan telah lama diwariskan secara turun
temurun. Kultur mengatur perilaku dan hubungan internal serta eksternal. Hal
ini perlu dipahami dan digunakan dalam mengembangkan kultur sekolah.
Nilai-nilai baru yang diinginkan tidak akan segera dapat beroperasi bila
berhadapan/berbenturan dengan nilai-nilai lama yang telah berurat berakar akan
dapat menghambat introduksi perilaku baru yang diinginkan. Stolp dan
Smith membedakan antara kultur sekolah dan iklim sekolah. Kultur sekolah
merupakan hal-hal yang sifatnya historis dari berbagai tata hubungan yang ada
dan hal-hal tersebut telah diinternalisasikan oleh warga sekolah. Sedangkan
iklim sekolah berada di permukaan dan berisi persepsi warga sekolah terhadap
aneka tata hubungan yang ada saat ini. Kultur sekolah memiliki tiga lapisan
kultur yaitu:
a) Artifak di permukaan,
b) Nilai-nilai dan keyakinan di tengah,
dan
c) Asumsi yang
berada di lapisan dasar.
Artifak adalah adalah lapisan
kultur sekolah yang paling mudah diamati, seperti misalnya aneka ritual
sehari-hari di sekolah, berbagai upacara, benda-benda simbolik di sekolah, dan
aneka ragam kebiasaan yang berlangsung di sekolah. Lapisan yang lebih dalam
berupa nilai-nilai dan keyakinan yang ada di sekolah. Sebagian berupa
norma-norma perilaku yang diinginkan sekolah, seperti slogan-slogan rajin
pangkal pandai, air beriak tanda tak dalam, menjadi orang penting itu baik
tetapi lebih penting menjadi orang baik, hormati orang lain jika anda ingin
dihormati. Lapisan yang paling dalam adalah asumsi-asumsi yaitu simbol-simbol,
nilai-nilai dan keyakinan yang tak dapat dikenali tetapi berdampak pada
perilaku warga sekolah, seperti misalnya:
a) Kerja keras
akan berhasil,
b) Sekolah bermutu
adalah hasil kerja sama sekolah dan masyarakat, dan
c) Harmoni
hubungan antar warga adalah modal bagi kemajuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar