Ayahku
Hai sebelumnya perkenalkan aku Wulan Oktavidia, aku memilih
tokoh inspirasi yaitu ayahku sendiri. Disini aku ingin mendeskripsikan biografi
tokoh yang sangat berperan dalam hidupku. Kenapa aku menjadikan ayahku sebagai
tokoh inspirasi? , karena banyak sekali pelajaran yang dapat aku ambil dari
ayahku. Lelaki terbaik yang pernah aku temui dan lelaki yang paling berani. Dia
seorang lelaki yang menjaga keluarganya dengan sepenuh hati. Lelaki yang sangat
tegar jika dia tertimpa musibah atau masalah dia akan berusaha berdiri sendiri
atau dia berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri, tanpa mengeluh.
Hampir setiap orang selalu mengagumi sosok ibu. Namun tidak
denganku. Selain mengidolakan ibu, aku pun sangat mengidolakan ayahku. Bagiku,
ayah adalah seorang pria idaman karena ayah adalah sosok yang sangat
bertanggung jawab. Dia juga orang yang sangat kreatif, karena banyak
barang-barang di dapur ibuku hasil buatan ayahku sendiri. Ayahku bernama Ali Raup,
ayahku pernah bercerita tentang arti namanya itu. Dia bilang kalau Ali adalah
nama yang biasa digunakan lelaki dari Bahasa islam yang mempunyai makna dan
arti yang tinggi, sangat baik, mulia, dan pemimpin islam. Maka dari itu ayahku
berpesan bahwa dia harus menjadi pemimpin yang tinggi didalam keluarganya. Ayahku
kini sudah berusia 45 tahun, sudah mulai jelas rambut yang berwarna putih di
kepalanya. Beliau lahir di Bengkayang
tanggal 23 juli 1976. Beliau adalah anak pertama dari 2 bersaudara, ayah saya
memiliki adik perempuan satu-satunya yang dia sayangi. Ayah beliau bernama Husein dan ibu beliau
bernama Nafiah.
Sejak kecil beliau sudah mandiri, lulus dari SDN 1 bengkayang
beliau menimba ilmu di SMPN 1 bengkayang di lain kecamatan tempat beliau
tinggal, artinya beliau harus mengontrak dan tinggal sendiri. Lulus SMP beliau
melanjutkan pendidikan sekolah di Singkawang, yang artinya beliau harus
berpisah dengan kedua orang tuanya. Beliau tinggal bersama kakak angkatnya
tinggal di Singkawang. Selama bersekolah di SMKN 1 Singkawang beliau sering
mendapatkan beasiswa, beliau mendapat beasiswa selama 2 tahun berturut-turut. Setelah
lulus SMA ayah saya bercita-cita ingin menjadi tentara tetapi ada masalah
dibagian biaya jadinya ayah saya memutuskan untuk menjadi pedagang.
Ayahku adalah seorang pedagang swasta tepatnya sebagai
pedagang sosis keliling. Minimnya penghasilan kadang sangat merepotkan
kehidupan kami. Tetapi, kebutuhan rumah tangga dan biaya aku sekolah pun dapat
terpenuhi. Memang tidak “wah” tetapi kami sangat bersyukur akan hal itu. Karena
keadaan inilah, ayah selalu menasehati aku untuk selalu menjalankan ibadah dan
selalu bersyukur apapun itu keadaannya. Sosok terhebat yang pernah ku jumpai
seumur hidupku, ayah mengajarkan banyak hal yang tidak pernah kutemui di
sekolah manapun, di universitas manapun. Ayahku bukan seorang sarjana tapi
pemikiran nya melebihi seorang sarjana bahkan professor sekalipun, pemikiran
ayah ku sungguh luar biasa. Karena seperti yang kita ketahui berprofesi sebagai
pedagang keliling tidaklah mudah. Artinya ayah harus berani susah dan ikhlas
untuk menjalankan seperti : kepanasan, badan pegal karena harus berkeliling,
dan harus siap menerima kenyataan jika tidak ada yang membeli jualannya.
Namun, hal ini berbeda dari sosok yang satu ini, beliau
adalah seorang ayah yang selalu saya jadikan contoh teladan dan penyemangat
dalam hidup saya. Sebagai kepala keluarga ayah saya selalu bekerja keras demi
menghidupi istri dan 2 orang anaknya. Beliau selalu bekerja keras siang dan
malam untuk memberikan yang terbaik kepada keluarganya, tak luput dalam
kesibukannya beliau pun sering menyempatkan waktu untuk anak-anaknya. Menanamkan
prinsip-prinsip kehidupan, memberikan pesan moral untuk selalu berusaha dan
berikhtiar juga dibarengi dengan doa untuk mencapai cita-cita. Beliau selalu
memotivasi kami anak-anaknya untuk belajar dan menuntut ilmu setinggi mungkin,
berharap anak-anaknya bisa jauh lebih baik darinya.
Ayah adalah pria sederhana, bagi mu ayah ku bukan apa-apa dan
memang ayah bukan siapa-siapa. Tapi bagi ku dan keluarga ayah adalah orang yang
sangat istimewa. Ayah mengajarkan ilmu yang tidak pernah aku pelajari di
sekolah manapun. Ayah selalu menjadi sumber inspirasi setiap hari, ayah juga
mempunyai segudang cerita yang membuatku banyak belajar dari pengalaman ayah.
Ayah selalu menyuruh aku untuk bermimpi besar. Ayah pernah berkata “ jika
mimpimu cukup besar maka tidak ada hal yang dapat menghambat langkahmu
menggapainya”. Dulu ketika aku masih sekolah, aku ada tugas kelompok di rumah
teman sampai larut malam. Ayah selalu setia menjemputku, dan setiap malam jika
ada bintang ayah selalu menatap langit dan berkata “suatu hari nanti kau harus
menjadi bintang, kau harus menyinari keluarga kita, kampong kita, dan bangsa
ini”. Itulah harapan ayah yang selalu aku simpan dalam hati ku, aku ingin
membawa terang bagi keluarga, kampong dan bangsa.
Ayahku memang tidak memberikan kami mobil dan motor ataupun
kemewahan yang lain tetapi ayahku menyekolahkan kami dan memberikan ilmu kepada
kami. Itu sudah lebih dari cukup. Kata ayah selalu berpesan segala kemewahan
akan hilang dengan adanya musibah, tetapi ilmu walau ada musibah tak akan
pernah hilang, ayah juga berkata dengan ilmu kami semua dapat menaikan harga
diri kami.
Beliau ini adalah sosok seorang ayah yang tak pernah
mengeluh, beliau juga selalu meluangkan waktu untuk bisa berkumpul bersama
keluarga untuk berbagi cerita dan bercanda. Bagi saya, beliau adalah harta
termahal yang ada dihidup saya. Seorang ayah yang selalu sabar menghadapi sikap
dan sifat kedua anaknya. Beliau juga seorang ayah yang lucu yang terkadang saya
jadikan objek untuk tempat bergurau saya, karena beliau memiliki tubuh yang
kurus daripada ibu saya . Ya, suasana canda tawa dalam keluarga itulah yang
saya rindukan ketika telah jauh dari mereka. Ayah saya sosok yang luar biasa
mempunyai sifat-sifat yang membuat saya heran dan bangga terhadap beliau. Meski
beliau memiliki turunan darah tinggi dari keluarga, beliau tidak pernah memperlihatkan
kemarahannya di depan anak-anaknya seperti tak mempunyai rasa capek dan
mengeluh. Semua yang bisa beliau kerjakan sendiri, maka beliau tidak akan
meminta bantuan orang lain meskipun itu dengan anaknya sendiri. Beliau selalu
menerima apa saja makanan yang dihidangkan oleh ibu saat makan. Tambah lagi,
beliau bisa menjahit jika ada pakaian beliau ataupun anaknya yang sobek maka
beliau akan menjahitnya sendiri.
Namun saya terkadang merasa sangat khawatir dan kasihan
dengan beliau yang terlalu bersemangat dengan semua kesibukan beliau. Karena beliau
sekarang sudah semakin tua . itu artinya seharusnya beliau sudah sepantasnya
tinggal duduk diam di rumah saja. Saya dan kedua saudara saya itulah yang
seharusnya memenuhi kebutuhan beliau sekarang. Tetapi kami lagi berjuang
menjadi anak-anak yang sukses untuk membahagiakan ayah dan ibu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar