Sabtu, 23 April 2022

4 Kompetensi Guru Profesional

 Guru yang profesional itu seperti apa, sih? Seorang guru dikatakan sebagai sebagai guru profesional jika menguasai empat standar kompetensi guru. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, dijelaskan bahwa kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Apa saja empat macam-macam kompetensi guru tersebut? Empat standar kompetensi profesional guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial.


Standar kompetensi pertama yang wajib dimiliki oleh seorang guru adalah kompetensi pedagogik. Kompetensi Pedagogik adalah kemampuan atau keterampilan seorang guru dalam mengelola suatu proses pembelajaran atau interaksi belajar mengajar dengan peserta didik. Aspek dan indikator kompetensi pedagogik guru ada tujuh poin, yaitu:

1. Karakteristik para peserta didik.

2. Teori belajar dan prinsip pembelajaran yang mendidik.

3. Pengembangan kurikulum

4. Pembelajaran yang mendidik.

5. Pengembangan potensi para peserta didik.

6. Cara berkomunikasi.

7. Penilaian dan evaluasi belajar.



Kompetensi Kepribadian berkaitan dengan karakter personal. Ada indikator yang mencerminkan kepribadian positif seorang guru yaitu: supel, sabar, disiplin, jujur, rendah hati, berwibawa, santun, empati, ikhlas, berakhlak mulia, bertindak sesuai norma sosial & hukum, dan lainnya. 

Mengapa guru perlu memiliki kompetensi kepribadian? Memiliki kepribadian yang berkarakteristik mendidik bagi seorang guru akan dapat dipandang sebagai acuan bagi keberhasilan anak didik dan guru itu sendiri. Guru yang menguasai kompetensi kepribadian akan sangat membantu upaya pengembangan karakter siswa.


Kompetensi Profesional Guru adalah kemampuan atau keterampilan yang wajib dimiliki supaya tugas-tugas keguruan bisa diselesaikan dengan baik. Keterampilannya berkaitan dengan hal-hal yang cukup teknis, dan akan berkaitan langsung dengan kinerja guru. 

Dalam kompetensi profesional, ada beberapa indikator yang perlu diperhatikan:

- Menguasai berbagai materi dan konsep keilmuan yang dapat mendukung mata pelajaran yang diampu. 

- Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu.

Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif.

- Melakukan refleksi terhadap diri sendiri untuk mengembangan keprofesionalan secara berkelanjutan.

- Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.


Kompetensi Sosial adalah kemampuan guru dalam berkomunikasi secara efektif kepada siswa, orang tua siswa, sesama tenaga pendidik, serta masyarakat di lingkungan sekitar.

Beberapa keterampilan yang perlu dimiliki guru dalam kompetensi sosial adalah sebagai berikut:

- Bersikap inklusif dan objektif, serta tidak diskriminatif terhadap peserta didik, sesama guru, dan masyarakat sekitar.

- Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun.

- Beradaptasi dengan lingkungan tempat bertugas dan dapat melaksanakan berbagai program untuk mengembangkan serta meningkatkan kualitas daerah sekitar.

Sabtu, 16 April 2022

Manajemen Kelas

Nama : Wulan Oktavidia 

Nim.   :12001289 

Kelas : 4 H 


Manajemen kelas adalah proses perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, dan pengawasan kegiatan pembelajaran guru dengan segenap penggunaan sumber daya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien. Manajemen adalah rangkaian kegiatan atau tindakan yang dimaksud untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan berlangsungnya pembelajaran. Manajemen kelas merupakan persyaratan penting yang menentukan terciptanya pembelajaran yang efektif.

Penciptaan kelas yang nyaman merupakan kajian dari manajemen kelas, sebab manajemen kelas merupakan serangkaian perilaku guru dalam upayanya menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang memungkinkan peserta didik untuk belajar dengan baik. Keefektifan manajemen kelas sangat tergantung kepada bagaimana guru memahami berbagai aspek pelaksanaannya.

Upaya guru menciptakan dan mempertahankan kondisi yang diharapkan akan efektif apabila:

- diketahui secara tepat faktor-faktor yang dapat menunjang terciptanya kondisi yang menguntungkan dalam proses belajar mengajar;

- diketahuinya masalah-masalah yang diperkirakan dan yang mungkin tumbuh yang dapat merusak iklim belajar mengajar; dan

- dikuasai berbagai pendekatan dalam manajemen kelas dan diketahui pula kapan dan untuk masalah mana satu pendekatan digunakan (Entang dan Joni, 1983:7).

Manajemen berasal dari Bahasa Latin, yaitu manus yang berarti tangan, dan agere yang berarti melakukan (Usman, 2009:5). Dua kata tersebut digabung menjadi managere, yang berarti menangani, melakukan dengan tangan. Usman (2009:5) mengemukakan managere diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, dalam bentuk kata kerja to manage, kata benda management, dan manager untuk orang yang melakukan kegiatan manajemen.


Manajemen menurut Kamus Bahasa Indonesia (2008:909-910) adalah: (1) proses pemakaian sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan; dan (2) penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran.

- Stoner (1995) berpendapat bahwa manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan berbagai berbagai sumber daya organisasi lainnya untuk mencapai tujuan organisasi yang diinginkan.H

- Hasibuan (1990) menyatakan bahwa manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan tertentu.

- Sedangkan Siagian (2002) mengemukakan bahwa manajemen adalah kemampuan dan keterampilan untuk memperoleh hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan orang lain.

Tujuan manajemen kelas adalah penyedia fasilitas bagi berbagai macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional, dan sikap apresiasi pada Jika mengacu pada pengertian manajemen kelas, maka tujuan manajemen kelas adalah menciptakan suasana atau kondisi kelas yang memungkinkan siswa dalam kelas tersebut dapat belajar dengan  efektif.  Beberapa  pengertian  manajemen kelas, seperti yang telah dipaparkan pada Subbab Pengertian Manajemen Kelas di atas, dapat diketahui pengertian berdasarkan konsep lama, berdasarkan konsep modern, dan berdasarkan pandangan pendekatan operasional tertentu. 

Manajemen kelas ditujukan pada kegiatan yang menciptakan dan menjaga kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar siswa, seperti membina hubungan baik antara siswa dengan guru, reinforcement, punisment, dan pengaturan tugas. Tujuan manajemen kelas adalah:


mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin;

menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran;

menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelektual siswa dalam kelas; dan

membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya, serta sifat-sifat individunya. Kemampuan guru memahami konsep manajemen kelas dan mampu mengimplementasinya menjadi faktor penentu keberhasilan pembelajaran.

Manajemen kelas ditekankan pada aspek pengaturan lingkungan pembelajaran yaitu berkaitan dengan siswa dan barang/fasilitas. Kegiatan guru tersebut dapat berupa pengaturan kondisi dan fasilitas yang berada di dalam kelas yang diperlukan dalam proses pembelajaran di antaranya tempat duduk, perlengkapan dan bahan ajar, dan lingkungan kelas.

Prinsip-Prinsip Manajemen Kelas


Prinsip Kesiapan “Readiness”

Kesiapan belajar ialah kematangan dan pertumbuhan fisik, psikis, inteligensi, latar belakang pengalaman, hasil belajar yang baku, motivasi, persepsi dan faktor-faktor lain yang memungkinkan seseorang dapat belajar.


Prinsip Motivasi “Motivation”

Motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Adanya motivasi pada peserta didik maka akan bersungguh-sungguh menunjukkan minat, mempunyai perhatian dan rasa ingin tahu yang kuat untuk ikut serta dalam kegiatan belajar, berusaha keras dan memberikan waktu yang cukup untuk melakukan kegiatan tersebut serta terus bekerja sampai tugas-tugas tersebuty terselesaikan.


Prinsip Perhatian

Perhatian merupakan suatu strategi kognitif yang mencakup empat keterampilan yaitu berorientasi pada suatu masalah, meninjau sepintas isi masalah, memusatkan diri pada aspek-aspek yang relevan dan mengabaikan stimuli yang tidak relevan. Dalam proses pembelajaran perhatian merupakan faktor yang besar pengaruhnya.


Prinsip Persepsi

Prinsip umum yang perlu diperhatikan dalam menggunakan persepsi adalah:

Makin baik persepsi mengenai sesuatu makin mudah peserta didik belajar mengingat sesuatu tersebut.

Dalam pembelajaran perlu dihindari persepsi yang salah karena hal ini akan memberikan pengertian yang salah pula pada peserta didik tentang apa yang dipelajari.

Dalam pembelajaran perlu diupayakan berbagai sumber belajar yang dapat mendekati benda sesungguhnya sehingga peserta didik memperoleh persepsi yang lebih akurat.

Prinsip Retensi

Retensi adalah apa yang tertinggal dan dapat diingat kembali setelah seseorang mempelajari sesuatu. Dengan retensi membuat apa yang dipelajari dapat bertahan atau tertinggal lebih lama dalam struktur kognitif dan dapat diingat kembali jika diperlukan. Karena itu retensi sangat menentukan hasil yang diperoleh peserta didik dalam proses pembelajaran.


Prinsip Transfer

Transfer merupakan suatu proses dimana sesuatu yang pernah dipelajari dapat memengaruhi proses dalam mempelajari sesuatu yang baru. Dengan demikian transfer berarti pengaitan pengetahuan yang sudah dipelajari dengan pengetahuan yang baru dipelajari. Pengetahuan atau keterampilan yang diajarkan disekolah selalu diasumsikan atau diharapkan dapat dipakai untuk memecahkan masalah yang dialami dalam kehidupan atau dalam pekerjaan yang akan dihadapi kelak.


Sabtu, 09 April 2022

MANAJEMEN SEKOLAH

NAMA : WULAN OKTAVIDIA 

NIM.    : 12001289


MANAJEMEN SEKOLAH


Manajemen sekolah dapat diartikan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan pengolahan proses pendidikan untuk mencapai latar belakang manajemen sekolah baik  jangka pendek, jangka menengah, maupun  jangka panjang.  Hal ini dianggap sebagai upaya untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat dan mengangkat manusia.  Memiliki keimanan dan ketaqwaan, berakhlak mulia, berilmu,  fungsi.

Manajemen secara umum dipahami sebagai suatu cara supaya tujuan dari organisasi tercapai dengan melakukan perencanaan (planning), organisasi (organizing), kepemimpinan (leading), dan pengendalian (controlling).

Jadi semua kegiatan dalam manajemen tersebut saling berhubungan dan berkesinambungan.


Manajemen Sekolah merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara efektif dan efisien untuk meningkatkan kinerja sekolah dalam pencapaian tujuan pendidikan baik tujuan nasional dan tujuan kelembagaan yang hasilnya bisa dilihat dari beberapa faktor sebagai indikator kinerja yang berhasil dicapai oleh sekolah.

Manajemen sekolah memiliki dua aspek, yaitu aspek manajemen eksternal dan manajemen internal. Manajemen internal sekolah meliputi perpustakaan, laboratorium, bangunan dan saran fisik lainnya, sumber dana, pelaksanaan evaluasi pendidikan, dan hubungan antar guru, murid. sedangkan manajemen eksternal meliputi hubungan dengan pihak luar sekolah seperti masyarakat, dewan pendidikan, dinas pendidikan maupun pihak lain yang terkait dengan fungsi sekolah.


Manajemen Sekolah bertujuan untuk memberdayakan sekolah melalui pemberian otonomi kepada sekolah dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif. Dan mengapa di sekolah harus ada namanya manajemen sekolah ? Ya, karena yang pertama yang kita ketahui adalah Tujuan Utama MBS adalah meningkatkan efisiensi, mutu, dan pemerataan pendidikan. Peningkatan efisiensi diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumber daya yang ada, partisipasi masyarakat, dan penyederhanaan birokrasi.


Cara Efektif Meningkatkan Manajemen Sekolah :


1. Informasi Terupdate


Informasi adalah hal paling penting di zaman modern ini. Jika anda ingin meningkatkan pelayanan kepada siswa dan orangtua murid, langkah pertama yang bisa anda tempuh adalah memberikan informasi terbaru mengenai perkembangan anak mereka di sekolah anda. Manajemen sekolah yang baik haruslah memiliki portal informasi yang bisa siswa dan orangtuanya akses kapan saja dan dari mana saja. Dengan cara ini, orangtua murid tak perlu lagi datang ke sekolah untuk mencari informasi seputar siswa dan keperluan sekolah lainnya.


2. Kelola Inventaris Lebih Baik

Tak bisa dipungkiri bahwa inventaris sekolah sangatlah rentan untuk rusak atau hilang. Benda-benda kecil seperti mouse di lab komputer, atau yang mudah rusak seperti mikroskop di lab biologi haruslah dijaga dan dirawat dengan baik. Karena jika tidak, maka sekolahlah yang akan menanggung ruginya. Penggunaan sistem inventaris yang terintegrasi dengan barcode sangatlah membantu pengelolaan inventaris sekolah. Dengan sistem inventaris, staf atau guru yang bertugas akan lebih mudah mencatat dan melacak keberadaan dan kondisi inventaris sekolah dengan lebih akurat.


3. Olah Data Siswa Baru


Jumlah pendaftar siswa baru sebuah sekolah biasanya sangatlah banyak. Makin popular sekolah tersebut, maka makin banyaklah orangtua yang ingin anaknya bersekolah di sana. Namun untuk pihak sekolah, ratusan atau ribuan data siswa baru berpotensi jadi penyebab sakit kepala. Inilah alasan sejumlah sekolah mulai menggunakan software helpdesk terkustomisasi untuk membantu mereka. Sistem helpdesk akan mengotomatiskan pendataan para siswa baru tersebut sehingga pekerjaan yang biasanya menumpuk saat penerimaan siswa baru bisa berkurang cukup banyak. Selain itu, sekolah juga dapat memberikan pelayanan terbaik untuk orangtua siswa dengan memudahkan tugas administrasi.


4. Manajemen Guru dan Karyawan


Staf yang ada di lingkungan sekolah bukanlah hanya guru. Ada juga petugas administrasi, kemanan, petugas lab, hingga tukang kebun dan kebersihan. Mengelola data kehadiran, gaji, asuransi dan pajak untuk setiap karyawan pastilah akan makan waktu jika dilakukan secara manual.


5. Sederhanakan Pembukuan Keuangan


Apapun lini bisnis yang anda jalankan, anda akan selalu berhubungan dengan pembukuan dan keuangan. Sama halnya dengan sekolah. Mengelola keuangan sekolah, mengetahui mana siswa yang belum bayar dan sudah bayar SPP adalah pekerjaan yang memakan waktu dan melelahkan. Sederhanakan pembukuan dan keuangan sekolah anda dengan sistem akuntansi. Dengan demikian, anda bisa lebih fokus dalam pekerjaan lainnya, seperti misalnya mengembangkan bi snis anda supaya lebih maju lagi.


Jadi, Manajemen adalah Suatu keadaan terdiri dari proses yang ditunjukkan oleh garis (line) mengarah kepada proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian, yang mana keempat proses tersebut saling mempunyai fungsi masing-masing untuk mencapai suatu tujuan organisasi

Pada hakekatnya istilah manajemen pendidikan dan manajemen sekolah mempunyai pengertian dan maksud yang sama. Keduanya susah untuk dibedakan karena sering dipakai secara bergantian dalam pengertian yang sama. Apa yang menjadi bidang manajemen pendidikan adalah juga merupakan bidang manajemen sekolah. Demikian pula proses kerjanya ditempuh melalui fungsi-fungsi yang sama, yang diturunkan dari teori administrasi dan manajemen pada umumnya .


Sabtu, 02 April 2022

 

KULTUR SEKOLAH

 

Nama                  : Wulan Oktavidia

Nim                    : 12001289

Kelas                  : 4H

 

Disini saya akan akan menuliskan tentang Kultur Jaringan , sebagaimana untuk memenuhi mata kuliah MAGANG 1 .

Kultur sekolah menjadi salah satu daya tarik konsumen untuk menggunakan jasa pendidikan yang ditawarkan sekolah. Semakin positif kultur sebuah sebuah, maka konsumen pendidikan akan semakin tertarik kepada sekolah tersebut. Dan yang terpenting, kultur sekolah merupakan landasan dari tercapainya semua bentuk prestasi warga sekolah. Kultur sekolah adalah serangkaian keyakinan, harapan, nilai-nilai, norma, tata aturan, dan rutinitas kerja yang diinternalisasi warga sekolah sehingga mempengaruhi hubungan sejawat dan kinerja warga sekolah dalam upaya mencapai tujuan sekolah. Kultur inilah yang menjadi pembeda antara sekolah satu dengan lainnya.

 Bagaimana kultur sekolah yang positif terbentuk? Kultur sekolah harus dibangun di atas landasan ilmu dan pemahaman yang memadai. Mengapa sekolah ini harus menerapkan kedisiplinan dalam berbagai hal, misalnya, harus dipahami oleh semua warga sekolah. Oleh karena itu tahapan sosialisasi menjadi langkah awal penanaman kultur, khususnya kepada warga baru, guru atau siswa baru. Melalui tahapan sosialisasi, warga sekolah mengawali proses internalisasi nilai-nilai dan norma yang dianut sekolah .

Tahapan berikutnya adalah pemantapan melalui serangkaian kegiatan pembiasaan dengan keteladanan piramid. Kepala sekolah menjadi tokoh utama keteladanan diikuti guru dan karyawan sedangkan peserta didik menjadi followers yang menyerap nilai-nilai positif dari perilaku para pemimpinnya.

Endingnya, kultur sekolah yang kuat membentuk wajah unik sekolah. Ketika masyarakat menyebut Sekolah A, maka sudah terbayang gambaran isi positif dari sekolah A tersebut. Sebaliknya, sekolah yang kulturnya lemah, maka wajah "semrawut"lah yang terbayang di benak masyarakat.

 

·        Karakteristik Kultur Sekolah

Kultur Sekolah merupakan budaya sekolah yang dapat memberikan pengaruh terhadap kehidupan masyarakat sekolah baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif sebagaimana karakteristik kultur tersebut. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Moerdiyanto yang menyatakan bahwa “Kultur sekolah terdiri dari kultur positif dan kultur negatif. Kultur positif adalah budaya yang membantu mutu sekolah dan mutu kehidupan bagi warganya”[5]. Dalam pengertian mutu sekolah dan mutu kehidupan dapat dimaksudkan sebagai mutu yang berhubungan dengan kehidupan yang bernilai moralitas dan agamis masyarakat sekolah. Aktifitas siswa dalam kesehariannya tidak akan lepas dari keterlibatan kultur sekolah pada proses bersikap, berbuat dan memandang bahkan berfikirnya. Mutu kehidupan siswa yang diharapkan adalah siswa yang memiliki prilaku baik dalam sudut pandang etika dan agama. Kultur positif ini akan memberi peluang sekolah beserta warganya untuk membentuk dan maningkatkan kemampuan dan kecerdasan spiritual siswa.

Kultur positif dan kuat memiliki kekuatan dan menjadi modal dalam melakukan pendidikan yang memperhatikan dimensi kecerdasan spiritual siswa dan perbaikan kondisi-kondisi agar dapat lebih kondusif terhadap tumbuh dan berkembangnya kecerdasan tersebut. Sedangkan kultur negatif adalah budaya yang bersifat anarkis, negatif, beracun, bias, dan dominatif. Sekolah yang hanya melihat dan menargetkan hasil pendidikan yang berupa kemampuan intelegensi dan mengabaikan dimensi spiritaual siswa merupakan bagian dari kultur negatif, karena mereka cenderung tidak melakukan upaya yang mengarah kepada terbentuk dan berkembangnya kecerdasan spiritual siswa. Kultur sekolah bersifat dinamis. Perubahan pola perilaku dapat mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sulit. Namun yang jelas dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan positif. Dan kultur sekolah itu milik kolektif dan merupakan perjalanan sejarah sekolah, produk dari berbagai kekuatan yang masuk ke sekolah. Sekolah perlu menyadari secara serius mengenai keberadaan aneka kultur subordinasi yang ada seperti kultur sehat dan tidak sehat, kultur kuat dan lemah, kultur positif dan negatif, kultur kacau dan stabil, dan konsekuensinya terhadap perbaikan sekolah.

 

·        Identifikasi Kultur Sekolah

Kotter memberikan gambaran tentang kultur dengan melihat dua lapisan. Lapisan pertama sebagian dapat diamati dan sebagian lainnya tidak diamati[6]. Dari pengelompokan ini maka dapat dipisahkan antara kultur yang dapat dilihat dengan yang tidak dapat dilihat, dan lapisan yang bisa diamati antara lain desain arsitektur gedung, tata ruang, desain eksterior dan interior sekolah, kebiasaan, peraturan-peraturan, cerita-cerita, kegiatan upacara, ritual, simbol-simbol, logo, slogan, bendera, gambar-gambar yang dipasang, tanda-tanda yang dipasang, sopan santun, cara berpakaian warga sekolah. Sedangkan hal-hal di balik itu tidak dapat diamati, tidak kelihatan dan tidak dapat dimaknai dengan segera. Lapisan pertama ini berintikan norma perilaku bersama warga organisasi yang berupa norma-norma kelompok, cara-cara tradisional berperilaku yang telah lama dimiliki suatu kelompok masyarakat (termasuk sekolah). Norma-norma perilaku ini sulit diubah, yang biasa disebut sebagai artifak. Lapisan kedua merupakan nilai-nilai bersama yang dianut kelompok berhubungan dengan apa yang penting, yang baik, dan yang benar. Lapisan kedua ini semuanya tak dapat diamati karena terletak dalam kehidupan bersama. Kultur pada lapisan kedua ini sangat sulit atau bahkan sangat kecil kemungkinannya untuk diubah serta memerlukan waktu yang lama.

Kultur sekolah beroperasi secara tidak disadari oleh para pendukungnya dan telah lama diwariskan secara turun temurun. Kultur mengatur perilaku dan hubungan internal serta eksternal. Hal ini perlu dipahami dan digunakan dalam mengembangkan kultur sekolah. Nilai-nilai baru yang diinginkan tidak akan segera dapat beroperasi bila berhadapan/berbenturan dengan nilai-nilai lama yang telah berurat berakar akan dapat menghambat introduksi perilaku baru yang diinginkan. Stolp dan Smith membedakan antara kultur sekolah dan iklim sekolah. Kultur sekolah merupakan hal-hal yang sifatnya historis dari berbagai tata hubungan yang ada dan hal-hal tersebut telah diinternalisasikan oleh warga sekolah. Sedangkan iklim sekolah berada di permukaan dan berisi persepsi warga sekolah terhadap aneka tata hubungan yang ada saat ini. Kultur sekolah memiliki tiga lapisan kultur yaitu:

a)    Artifak di permukaan,

b)   Nilai-nilai dan keyakinan di tengah, dan

c)    Asumsi yang berada di lapisan dasar.

Artifak adalah adalah lapisan kultur sekolah yang paling mudah diamati, seperti misalnya aneka ritual sehari-hari di sekolah, berbagai upacara, benda-benda simbolik di sekolah, dan aneka ragam kebiasaan yang berlangsung di sekolah. Lapisan yang lebih dalam berupa nilai-nilai dan keyakinan yang ada di sekolah. Sebagian berupa norma-norma perilaku yang diinginkan sekolah, seperti slogan-slogan rajin pangkal pandai, air beriak tanda tak dalam, menjadi orang penting itu baik tetapi lebih penting menjadi orang baik, hormati orang lain jika anda ingin dihormati. Lapisan yang paling dalam adalah asumsi-asumsi yaitu simbol-simbol, nilai-nilai dan keyakinan yang tak dapat dikenali tetapi berdampak pada perilaku warga sekolah, seperti misalnya:

a)    Kerja keras akan berhasil,

b)   Sekolah bermutu adalah hasil kerja sama sekolah dan masyarakat, dan

c)    Harmoni hubungan antar warga adalah modal bagi kemajuan.

Silabus

 Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi ...